Spread the love
MayaMediaNews.com Jakarta,Penyelam dari Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (Possi) bernama Budi Cahyono mengungkapkan faktor mentalitas juga menjadi modal utama dalam mencari badan pesawat dan para penumpang yang menjadi korban.

Tm gabungan telah diterjunkan untuk mencari puing dan korban pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh ke perairan Kepulauan Seribu. Budi Cahyono merupakan salah satu penyelam yang diterjunkan dalam operasi evakuasi ini.
Sebelum ini, Budi juga pernah ikut dalam evakuasi pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh pada Oktober 2018 lalu. Penyelam dari Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (Possi) tersebut lantas memutuskan untuk terlibat dalam upaya evakuasi yang baru dimulai akhir pekan lalu.
Budi mengungkapkan terdapat sejumlah hambatan dalam penyelaman evakuasi, seperti faktor alam, faktor kesehatan, hingga faktor emosi. “Cuaca kemarin kurang bagus, di dalam airnya keruh jadi tim kita belum ada yang mendapatkan puing itu. Mudah-mudahan hari ini keadaan laut bersahabat,” tutur Budi dilansir para media  pada Selasa (12/1).
Adapun lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air di kedalaman 20 hingga 25 meter ini juga mempengaruhi para penyelam. Mereka hanya memiliki waktu 45 menit hingga 1 jam untuk menyelam. Jika kondisi tubuh sedang tidak bugar, maka kendala akan semakin dirasakan.
Oleh sebab itu, penyelam yang kondisi badannya sedang tidak fit tidak akan diterjunkan dalam operasi ini. “Oke di sini (posko) dia fit, pas naik kapal, melakukan perjalanan ke lokasi, dan sampai sana kondisinya kurang baik, kita tidak akan turunkan,” terang Budi.
Menurut Budi, faktor mentalitas juga menjadi modal utama dalam mencari badan pesawat dan para penumpang yang menjadi korban. Budi menjelaskan bahwa para penyelam harus tetap tenang meski melihat puing pesawat atau potongan tubuh manusia di dalam air.
“Emosi penyelam pasti bercampuraduk ketika melihat hal tersebut. Saya juga pernah mengalami itu. Kaget dan takut pasti ada tapi kita harus tetap tenang demi keselamatan kita sendiri,” terangnya. “Yang pasti mencari korban kecelakaan di dalam air memang tak pernah jadi sesuatu yang mudah.”
Sebagai informasi, penyelam dari berbagai satuan diterjunkan dalam proses evakuasi pesawat rute Jakarta-Pontianak tersebut. Di antaranya adalah penyelam dari Basarnas, Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) TNI AL, Detaseman Jala Mangkara (Denjaka) TNI AL, Korps Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL, Dinas Penyelam Bawah Air TNI, Brimob Polri, hingga para relawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *